Karya : Almira Refriani
Disinilah dia, berjalan di koridor sekolah menuju ruang kelas XI IPA 2. Apa kalian terkejut? Howon anak IPA tetapi untuk pergi kesekolah saja malas? anak IPA juga manusia biasa. Lalu Howon duduk di sudut kiri ruang kelasnya, menatapi isi kelas yang hanya diisi oleh 2-3 orang murid. Setelah itu ia menatap ke jendela yang terletak di sebelahnya, sekedar memandang langit yang gelap, dipenuhi awan berwarna abu-abu. Tidak ada yang spesial di hari-hari Howon.
“Kurnia, nama yang indah. Memang benar-benar karunia dari tuhan.” pikirnya dalam hati sembari terkekeh pelan. Saat Howon sedang tenggelam bersama dunianya sendiri tanpa sadar Kurnia sedang menatap ke arahnya, lalu Howon tersadar dan menatap mata Kurnia dengan gugup seperti orang yang sedang ketahuan maling mangga di pohon tetangga.
“Ah gak ada apa-apa, aku cuma ketawa karena khayalanku sendiri.” Jawab Howon sambil tersenyum kepadanya, lalu Kurnia beranjak dari tempat duduknya dan mengambil tempat duduk disebelah Howon.
“Dia tidak dijemput?” Howon berkata dalam hati setelah melihat Nia pulang hanya dengan berjalan kaki. Howon mengikuti Nia, tentu saja dengan menjaga jarak agar Nia tidak tahu bahwa Howon mengikutinya. Ia mengikuti gadis itu sampai gadis itu masuk kedalam rumah dalam keadaan aman. Howon menghela nafas;lega. Perasaan itulah yang ia rasakan. Perasaan lega karena gadis yang dicintainya itu pulang dengan aman.
Howon melangkahkan kakinya kembali untuk pulang kerumah, dia tidak memberhentikan taksi atau sekedar untuk mencari ojek. Yang dia lakukan adalah berjalan kaki, bukan karena Howon tidak punya uang, bukan. Tetapi karena Howon ingin memikirkan gadis itu lebih lama sembari berjalan kaki pulang kerumah.
Sesampainya dirumah, Howon segera masuk kedalam kamarnya, merebahkan diri ditempat tidur kesayangannya. Ia memejamkan matanya.
“Melelahkan.” gumam Howon, dan sesaat kemudian lelaki itu tersenyum. “Konyol” ia kembali bergumam dan tersenyum kembali. Howon memikirkan betapa cepat waktu berlalu, dari mulai pagi ia malas pergi kesekolah dan ternyata dia bertemu gadis yang mampu membuat dunianya berputar 180° dalam beberapa detik saja. Howon pun tertidur menutup hari bahagianya.
“Won, lagi ngapain lo?” Tanya Radit.
“Gue gak lagi ngapa-ngapain.”
“Lo itu kebiasaan bengong tau gak, nanti lo kesambet baru tau rasa.” goda Radit.
“Ya enggak lah kan gue rajin ibadah” Howon tertawa.
Nia mendengar obrolan antara Howon dan Radit lalu gadis itu tersenyum. Tanpa Howon sadari, Nia sedari tadi memperhatikannya.
Pelajaran pun dimulai, Howon jarang memperhatikan guru, yang dia lakukan adalah memandang seorang gadis. Pandangan Howon hanya terpaku pada satu titik fokus, siapa lagi kalau bukan Nia. Tidak ada yang lain, baginya hanya Nia.
“Hati-hati dong lo!” bentak pemuda itu. Nia hanya menunduk.
“Maaf kak.” Nia menatap wajah pemuda itu.
Howon hanya berhenti dan memandang dari kejauhan.
“Lo cantik juga.” pemuda tersebut tersenyum lalu memeluk pinggang Nia.
“Maaf jangan sentuh saya.” Nia berusaha melepas pelukan dari pemuda itu tetapi apadaya tenaga pemuda itu jauh lebih besar dari Nia. Nia terlihat ketakutan sekali, nafasnya tercekat, sehingga mau berteriak saja sulit. Setelah melihat kejadian itu Howon bergegas menghampiri Nia dan menghajar pemuda itu sampai terjatuh menyentuh tanah.
“Jangan berani sama cewek!” bentak Howon. Pemuda itu segera berdiri dan pergi dari tempat itu. Hati Howon perih melihat gadis yang ia cintai begitu ketakutan seperti itu. Wajahnya pucat dan tubuhnya bergetar ketakutan. Howon segera menarik gadis itu kedalam pelukannya,menenangkan Nia dengan pelukannya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Howon tak perduli dengan orang-orang yang melihat mereka berdua, yang Howon perduli adalah Nia. Howon dapat merasakan ketakutan Nia, merasakan tubuh Nia yang bergetar ketakutan.
“Jangan takut, ada aku disini.” Hanya itu yang dapat Howon katakan. Lambat laun Howon merasakan Nia mulai tenang, nafasnya mulai normal, tidak seperti tadi. “Aku antar kamu pulang ya? Tapi maaf aku gak bawa kendaraan seperti orang lain.” Nia hanya mengangguk. Howon melepas pelukannya dan Nia mulai berjalan kembali untuk pulang. Sama seperti tadi ataupun pagi tadi, Howon berjalan dibelakang Nia. Memastikan ia baik-baik saja, menjaganya dari belakang. Nia selalu melihat kebelakang untuk sekedar memeriksa bahwa Howon tidak meninggalkannya. Howon tersenyum. “Aku enggak bakal ninggalin kamu. Kamu jalan aja terus. Aku pastikan kamu baik-baik aja” Nia kembali mengangguk. Akhirnya Nia dapat pulang kerumah dengan selamat. Sebelum Nia masuk kedalam halaman rumah, gadis itu menoleh ke arah Howon.
“Makasih.” Nia tersenyum.
Hanya satu kata. Hanya satu kata itu dapat membuat Howon bahagia.
“Ternyata bahagia itu sesederhana ini.” pikir Howon. dan Howon hanya mengangguk menanggapi kalimat terimakasih dari Nia.
Howon dan Nia sangat berbeda. Sifat mereka sangat bertolak belakang, Nia sangat payah dibidang olahraga sementara Howon sangat pandai dibidang itu. Howon sangat payah di bidang fisika sementara disisi lain Nia sangat ahli. Tapi perbedaan itu yang menyatukan mereka. Saling melengkapi satu sama lain, walau tidak jarang mereka terlibat dalam kesalah pahaman besar yang membuat mereka terlibat dalam pertengkaran hebat.
Sementara disisi lain, Howon sedang bergegas untuk pergi ke tempat Nia menunggunya. Semalam Howon menonton film hingga larut malam. Ia lupa bahwa mempunyai janji kepada Nia, akibatnya Howon telat bangun dari tidurnya. Saat ia bangun dan melihat jam, Howon panik. Jam di dinding telah menunjukkan pukul 9.30 itu artinya ia telah terlambat 20 menit dari jam yang ditentukan. Dengan jantung yang berdegup kencang Howon bersiap dan mengambil kunci motornya untuk segera menemui Nia. Sialnya jalanan pagi itu sangatlah macet, dikarenakan itu adalah hari libur. Hari dimana semua orang menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan dengan orang terdekat. Saat Howon terjebak macet, ia ingin mengabari bahwa ia akan terlambat, lagi-lagi Howon terkena sial. Ponsel Howon mati, dia lupa mengisi battery ponselnya semalam.
Saat Howon tiba di cafe, Howon segera mencari Nia di sekeliling cafe. Tidak ada Nia disana. Nia telah pergi. Howon menghela nafas berat “Aku terlambat.” Dengan langkah gontai, Howon meninggalkan tempat itu dan pergi menuju rumah Nia.
Sesampainya dihalaman rumah Nia, Howon memarkir motor kesayangannya yang jarang ia pakai itu. Howon turun dari motornya dan berjalan kedepan pintu rumah Nia, lalu Howon menekan bel yang terdapat di pintu rumah Nia. Sekali ia menekan, tidak ada jawaban. Dua kali ia menekan, tidak ada pertanda bahwa ada orang dirumah. Tiga kali ia menekan, tetap saja tidak ada yang membuka pintu rumah itu, bahkan rumah itu terlihat sepi sekali.
“Mungkin Nia belum pulang.” Pikir Howon.
Howon segera menaiki lagi motornya, menyalakan mesin motor kesayangannya itu dan pergi mencari Nia. Howon mengendarai motornya dengan merasakan beragam perasaan seperti merasa bersalah, takut, panik, bingung, semua menjadi satu. Dalam hati ia berdoa agar ia cepat menemukan Nia dan dapat menjelaskan alasannya terlambat datang ke cafe. Tidak berapa lama, do’a Howon dikabulkan. Ia menemukan gadis itu sedang berjalan di trotoar menuju kesebuah taman. Howon segera memarkirkan motornya dan mengejar Nia.
Tiba-tiba ada tangan yang menarik tangan Nia, membuat Nia berhenti berjalan dan membalikan badannya menghadap orang itu.
“Mau ngapain kamu kesini?” Nia berusaha menahan emosinya.
“Maafin aku Ni.” Orang itu menatap wajah Nia dengan penuh harap.
Nia hanya diam memasang muka dingin.
“Nia,aku minta maaf.” Orang itu kembali meminta maaf dan Nia tetap pada pendiriannya, diam.
“Aku tau aku salah udah ngebuat kamu nunggu. Aku tau kamu engga suka nunggu.” Nia menatap langsung kemata orang itu.
“Semua orang enggak suka nunggu Owon.” Nia akhirnya merespon orang itu yang ternyata adalah Howon.
“Aku janji sama kamu,aku engga bakal buat kamu nunggu lagi,aku enggak bakal bohong sama kamu lagi.” Nia dapat merasakan ketulusan Howon saat mendengar kata-kata itu.
“Sebagai permintaan maaf, aku beliin kamu ice cream ya?” Howon langsung menarik tangan Nia mengajaknya ke kedai ice cream yang berada di sekitar taman.
Howon menatap wajah Nia, Howon dapat melihat binar kekecewaan yang terlihat jelas dimata Nia.
“Ni..” Howon berusaha memecah keheningan. “Kenapa diam aja? Biasanya kamu yang paling bawel.”
“Apa? Bawel? Kamu tuh yang bawel.” Nia mengerucutkan bibirnya protes karena perkataan Howon.
Howon tertawa melihat gadis itu. “Udah engga marah lagi kan?”
“Masih.” Nia melipat kedua tangannya di dada dan masih tetap mengerucutkan bibirnya.
“Cute.” Pikir Howon sembari terkekeh pelan.
“Janji dulu kalau Owon engga bakal bohong lagi sama Nia” Nia lalu mengangkat kelingkingnya. Howon melihat gadis itu lalu tersenyum. “Janji.” Howon mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking gadis itu.
Dengan janji itu akhirnya Howon dan Nia kembali berbaikan, lalu mereka berbicara panjang lebar hingga sore hari.
“Udah sore, aku antar kamu pulang ya.” Howon melihat jam tangannya.
“Ayo.” Nia berdiri dari tempat duduknya dan begitu juga dengan Howon. Howon lalu membayar semuanya dikasir. Nia keluar lebih dulu dibandingkan Howon dari kedai itu, setelah Howon membayar, Howon menghampiri Nia yang telah menunggunya di luar kedai.
“Aku bawa motor. Kita naik motor ya. Kamu jalan duluan aja aku ngasih tau arahnya.” Nia lalu berjalan menuju tempat dimana motor Howon berada. Howon berjalan di belakang Nia. Howon selalu berjalan di belakang Nia. Howon tidak pernah sekalipun jalan disamping Nia ataupun di depan Nia. Howon ingin memastikan gadis itu aman dalam jarak pandangannya.
Setelah sampai di tempat parkir, Howon mengambil satu-satunya helm yang ia bawa dan memasangkannya ke kepala Nia.
“Kamu enggak pake helm dong?” Nia mengerutkan keningnya bingung.
“Enggak apa, yang penting kamu aman.” Howon tertawa dan Nia langsung memukul pelan tangan Howon.
“Ni, kamu tahu gak? Kamu sama aku itu seperti warna Jingga dan Nila pada senja. Kadang bertabrakan tapi selalu indah.” Howon melihat Nia lalu tersenyum. Nia tertegun melihat Howon. setelah itu Howon pun menaiki motornya dan Nia duduk di belakang Howon. Howon menyalakan mesin, menjalankan motornya untuk mengantar Nia pulang.
“Kumpulkan kertas kalian sekarang juga! Waktu telah habis.” Perintah guru fisika.
Seluruh penghuni kelas ribut karena rata-rata mereka belum selesai dan akhirnya mereka satu persatu mengumpulkan lembar jawaban mereka. Howon terlihat lemas sekali, khawatir nilainya jelek.
Waktu istirahatpun telah tiba, Howon, Nia, Monica, dan Radit pergi ke kantin untuk mengisi waktu istirahat mereka. Howon duduk di salah satu bangku di kantin, sementara Nia, Monica, dan Radit sedang memesan makanan. Howon duduk dengan lemas, memandang ke arah Nia yang sedang memesan makanan. Setelah memesan makanan Nia, Monica, dan Radit duduk kembali di dekat Howon.
“Kenapa lo?” Radit memandang Howon dengan tampang bingung.
“Fisika gue nih hancur parah.” Howon berkata sembari mengaduk-ngaduk minumannya.
“Lupain aja Won, sekarang mending lo makan.” Monica berkata sambil memakan gado-gado yang ia pesan tadi. Howon hanya mengangguk pasrah. Nia hanya diam melihat Howon.
Waktu istirahapun telah berlalu, sekarang mereka sedang belajar seperti biasa. Howon tidak punya semangat untuk belajar. Jadi selama pelajaran berlangsung ia hanya memandang keluar jendela atau bermain game di handphone miliknya.
Bel untuk pulang akhirnya berbunyi. Howon segera membereskan semua barang diatas mejanya dan memasukkan kedalam tas. Mood Howon dihari ini sangatlah jelek. Howon segera keluar kelas dan menunggu Nia. Setelah Nia keluar dari kelas, Howon berjalan di belakang Nia dengan diam,tidak berkata satu patah katapun. Nia segera membalikkan badannya.
“Kamu kenapa?” gadis itu bertanya kepada Howon. Howon hanya diam saja.
Tiba-tiba langit menurunkan rintik-rintik hujan. Howon dan Nia sedang berada di depan gedung sekolah.
“Hujan. Kita pulang nanti aja, tunggu hujan reda.” Howon memandang Nia.
“Enggak bisa, aku harus ngerjain tugas.” Nia melihat Howon yang memasang tampang dingin. “Kalau kamu engga mau pulang sekarang yaudah aku pulang sendirian aja.” Nia yang keras kepala itu segera berlari menembus hujan yang turun dengan derasnya. Howon yang melihat itu hanya bisa berdecak kesal lalu mengejarnya.
Nia dan Howon berlari menembus hujan. Mereka tidak berhenti berlari sampai akhirnya tiba di depan pintu rumah Nia. Howon melihat Nia yang basah dan menggigil kedinginan. Howon hanya diam. Nia lalu membuka pintu rumahnya dan masuk kedalam diikuti oleh Howon.
Howon duduk di sofa ruang tamu,sementara Nia pergi ke kamarnya dan berganti baju. Setelah selesai, Nia mengambil baju di kamar kakaknya untuk dapat Howon pakai. Nia adalah anak kedua dari keluarga yang berada, kakak Nia sedang berada diluar negeri sementara kedua orangtuanya sibuk bekerja. Cerita Howon juga tidak berbeda jauh, hanya saja Howon anak tunggal.
Nia segera menemui Howon dan memberikan baju itu kepada Howon. Howon menerimanya dan segera ke kamar mandi untuk berganti baju. Nia lalu duduk di sofa dengan memegang kepalanya yang terasa sangat pusing. Nia terlihat pucat mungkin karena hujan tadi.
Howon keluar dari kamar mandi dan melihat Nia sedang terduduk di sofa dengan muka yang pucat. Howon berdiri di hadapan Nia.
“Kan aku udah bilang kita pulangnya nanti aja kenapa kamu lari nembus hujan!” ulangan fisika mendadak ditambah melihat Nia yang tidak mau mendengarkan perkataannya membuat emosi Howon meledak. Ia membentak Nia yang sedang terduduk menahan sakit di kepalanya. Nia hanya menunduk dibentak Howon. Nia tau Howon membentaknya karena ia salah tetapi tetap saja Nia merasa sedih, sebelumnya Howon tidak pernah membentak Nia sekalipun. Ini pertama kalinya Howon membentak Nia.
Setelah membentak Nia, Howon merasa bersalah. Lalu ia duduk di sebelah Nia dengan masih berusaha meredam emosinya.
“Kenapa kamu enggak dengerin aku?” Howon mengelus kening Nia dengan menggunakan jempol tangan kirinya. “Kalau kamu sakit gimana mau ngerjain tugasnya? Percuma aja kan kita pulang?” Howon menghela nafas panjang. Nia hanya menunduk,tidak berani menatap Howon ataupun merespon apa yang Howon katakan. “Yaudah sekarang kamu tidur, badan kamu hangat.”
Nia kemudian berdiri dari sofa, kali ini dia menurut dengan apa yang Howon katakan. Ia masih merasa sedih karena dibentak Howon jadi tanpa berkata apapun Nia memasuki kamarnya dan menutup pintu kamar. Howon yang melihat itu hanya diam.
“Nia..” Howon mengetuk pintu kamar Nia kembali.
Tidak ada jawaban. Nia tidak ada niat untuk membuka pintu kamarnya. Terdengar suara Howon yang menghela nafas panjang.
“Yaudah kalau gitu kamu istirahat aja ya biar besok bisa sekolah. Aku pulang ya, jangan lupa kunci pintu rumah.”
Howon pun meninggalkan Nia sendirian dirumahnya yang besar itu.
Howon berlari sampai rumah. Rumah Howon dan Nia berbeda arah. Tetapi Howon selalu mengantar Nia pulang, untuk memastikan gadis itu baik-baik saja tentunya.
Sesampainya dirumah, Howon segera menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu. Rumahnya tentu saja, kosong. Howon memejamkan matanya. Ia berpikir percuma saja dia berada dirumah, jika pikirannya selalu berada di rumah Nia. Dengan langkah mantap Howon berdiri dari sofa dan masuk ke kamarnya, mengambil seragam sekolah dan segala perlengkapan untuk besok. Setelah ia rasa siap, Howon segera menulis catatan untuk orangtuanya dan meninggalkan catatan itu di meja belajarnya.
Howon mengambil kunci motor dan segera pergi menuju rumah Nia dengan motor kesayangannya. Howon mengendarai motornya dengan kecepatan maksimal jadi tidak butuh waktu lama untuk sampai dirumah Nia.
Sesampainya dirumah Nia, ia segera mengetuk pintu rumah gadis itu dan menunggu beberapa saat. Tidak ada respon. Howon mengetuk lagi, dan masih tidak ada respon. Howon mencoba membuka pintu rumah itu, ternyata pintu itu terbuka. Pikiran negatif memasuki otak Howon. Dengan cemas ia masuk kedalam rumah Nia dan berjalan menuju kamar Nia, membuka pintu kamar gadis itu dan yang Howon dapatkan adalah Nia yang sedang tertidur dengan nyenyaknya. Howon menghembuskan nafas lega. Lalu Howon mendekatinya, membenarkan letak selimut yang Nia kenakan dan keluar dari kamar itu.
Howon berjalan menuju ruang tengah, lalu duduk di sofa dan menonton TV untuk sekedar menghilangkan rasa bosan. Tapi tidak lama Howon merasa bosan menonton TV lalu ia mengambil tasnya dan mengeluarkan PSP miliknya. Howon merebahkan dirinya di sofa tersebut dan asik bermain dengan PSPnya.
“Owonnnnnnnn.” Nia memanggil Howon
“Hm..” yang ia dapatkan hanya gumaman dari Howon. Nia mengerucutkan bibirnya, kesal karena Howon tidak memperhatikannya. Nia mengambil PSP dari tangan Howon dan menyembunyikan PSP itu dibelakang badannya.
“Nia kenapa diambil? Padahal aku udah mau menang.” Howon duduk dan melihat Nia dengan tampang frustasi lalu segera berusaha mengambil PSP dari tangan Nia.
“Gak gak gak. Kamu enggak boleh main PSP. Sekarang waktunya kita belajar fisika buat siap-siap siapa tahu kita remedial besok.”
“Malas.” Howon mendengus. Nia menjitak kepala Howon dengan keras.
“Belajar sekarang.” Nia berlari ke kamarnya untuk mengambil buku fisika dan kembali kehadapan Howon. Nia menaruh bukunya diatas meja yang berada diruang tengah dan segera duduk dengan disusul oleh Howon.
Howon dengan malas melihat Nia yang dengan semangat belajar fisika. Nia menjelaskan segala macam tentang rumus fisika tetapi Howon tidak memperhatikannya. Howon menguap karena mengantuk, Nia yang melihat itu segera mencubit pipi Howon.
“Sakit.” Howon mengusap pipinya. “Kamu tahu sakit gak?” Howon melihat Nia lalu membalas mencubit pipi Nia dan tertawa. Nia hanya mengerucutkan bibirnya lagi dan kembali fokus pada fisikanya. Howon melihat Nia kemudian ikut fokus kedalam fisika.
Mereka berdua belajar fisika sampai larut. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.
“Ni kamu tidur ya udah malam, aku pulang dulu.” Howon menutup bukunya.
“Kamu nginap disini aja, ini udah malam. Orangtua aku enggak ada, aku takut sendirian.” Nia melihat Howon. Howon heran mendengarnya.
“Kamu enggak takut aku macem-macem sama kamu?”
“Enggak. Aku percaya kamu.” Howon tersenyum mendengar jawaban Nia dan mengacak-acak rambut Nia dengan lembut.
“Yaudah kamu tidur sekarang.”
“Iyaaaa, kamu tidur dikamar kakak aku aja ya”
Howon mengangguk. Nia menutup bukunya dan membawanya masuk ke kamar. Setelah memastikan Nia telah masuk ke kamarnya, barulah Howon masuk ke dalam kamar kakaknya Nia. Mereka mengakhiri hari tersebut dengan tertidur pulas.
“Owooonnn” Nia menggoyangkan badan Howon. Tapi ternyata Howon masih saja tidur. “Dasar siput.” Nia melihat Howon yang masih tertidur dan kembali membangunkan Howon dengan cara yang sama. Akhirnya Howonpun bangun dan segera bersiap untuk pergi kesekolah.
Mereka berdua telah siap untuk pergi kesekolah. Howon lalu menaiki dan menyalakan mesin motornya. Howon memanaskan mesin motornya sembari menunggu Nia. Nia masih sibuk mengunci semua pintu di rumah.
“Nia cepetan kita mau telat.” Howon berteriak untuk mengingatkan Nia.
“Iya bentar Owon.” Nia berlari kecil menghampiri Howon dan naik keatas motor Howon.
“Udah?” Howon melihat Nia dari kaca spion motornya.
“Udah.” Jawab Nia. Howonpun segera menjalankan motornya dengan kecepatan yang biasa saja. Tentu saja dia tidak ingin mengambil resiko dengan adanya Nia di belakangnya jadi ia hanya menjalankan motornya dengan kecepatan standar.
15 menit kemudian mereka telah sampai di sekolah. Howon memarkirkan motornya di parkiran sekolah. Nia segera turun dari motor yang disusul oleh Howon. Saat Howon sedang membelakangi Nia, Nia menarik pelan jaket Howon. Howon membalikan badannya untuk menghadap Nia.
“Kenapa?” Howon melihat Nia sembari memperbaiki rambut Nia yang berantakan terkena angin.
“Temenin aku sehabis pulang sekolah.”
“Aku enggak bisa Nia, aku mau pergi sama Ibu.”
“Yaudah enggak apa-apa deh.”
Nia berjalan duluan ke kelas dan Howon mengikutinya dari belakang. Banyak siswa lain yang berbisik karena melihat Nia dan Howon datang kesekolah bersama. Tapi mereka berdua tidak perduli. Apalagi Howon, yang ia perdulikan hanya Nia.
Nia duduk di bangkunya. Belum 1 menit ia duduk Monica telah menanyai Nia.
“Kamu berangkat sama Howon? Ih tumben.”
“Iya, kenapa memang?”
“Enggak apa-apa sih tumben aja gitu.” Nia melihat temannya heran. Monica jadi bingung sendiri. “Enggak apa-apa Ni, lupain aja.” Nia hanya mengangguk. Pelajaran pun dimulai. Guru fisika memasuki kelas.
“Sekarang saya akan membacakan nama-nama yang Ikut remidial.” Seluruh murid tegang melihat Pak guru fisika itu. “Howon, Radit, Novia, Kiki, Alya.” Dan pak guru terus meneruskan panggilan sampai ada 20 murid yang mengikuti remidial. Nia? Tentu saja dia tidak kena begitupun Monica.
Nia melihat raut wajah Howon yang cemas. Howon menatap Nia dengan wajah bingung. Nia mengepalkan tangan kanannya dan mengangkatnya sembari melihat Howon.
“Semangat!” Nia tersenyum kepada Howon. Howon tertawa melihat tingkah Nia.
“Yang tidak mengikuti remidial kalian boleh keluar dari kelas.” Pak guru fisika kembali berbicara. Lalu semua yang tidak mengikuti remidial mulai keluar kelas. Setelah itu pak guru membagikan lembar jawaban beserta soal dan mempersilahkan untuk mengerjakannya. Howon dengan lancar menjawab soal itu karena ia telah belajar semalam sebelumnya. Ia bersyukur mempunyai Nia yang berada disampingnya untuk mendukungnya.
1,5 Jam telah berlalu. Semua telah mengumpulkan lembar jawabannya kepada pak guru. Howon menyenderkan badannya ke bangku dan menutup matanya. Nia masuk ke dalam kelas dan melihat Howon.
“Gimana tadi?” Nia cemas melihat Howon.
“Lancar.” Howon membuka matanya dan menatap Nia. Nia lega mendengarnya dan tersenyum kepada Howon.
“Howon? Bapak tadi pertama kali melihat kertas jawaban kamu dan langsung memeriksanya. Bagus sekali Howon, kamu ada kemajuan yang sangat berarti.”
Howon menatap pak guru dengan wajah yang tidak percaya. Howon langsung tersenyum dengan lebar. Bangga pada diri sendiri. Begitupun juga Nia, perjuangannya mengajari Howon tidak sia-sia. Semua bertepuk tangan untuk Howon. Telinga Howon menjadi berwarna merah karena malu.
“Sudah-sudah. Kalian sekarang boleh Istirahat.” Pak guru menyudahkan sesi tepuk tangan tersebut. Semua siswa segera keluar kelas untuk mengistirahatkan diri.
“Selamat Won!” Ucap Radit dan Monica berbarengan.
“Cie ngucapinnya barengan.” Nia menggoda Radit dan Monica. Howon hanya tertawa.
“Makasih.” Howon tersenyum melihat teman-temannya.
“Ni..” Howon melihat Nia yang sibuk membereskan barang-barangnya. “Hari ini kamu pulang ditemenin Monica aja ya. Aku agak sibuk.”
Nia mengadahkan kepalanya melihat Howon. “Hm oke.”
“Yasudah, aku pergi duluan ya.” Howon mengacak rambut Nia pelan dan langsung berjalan menuju motornya. Nia bingung Howon sedang sibuk apa sampai tidak bisa meluangkan waktunya untuk mengantar Nia pulang. Ini tidak seperti biasanya, apalagi tadi pagi saat Nia meminta Howon menemaninya Howon bilang ia ingin menemani Ibunya. Nia pun mengajak Monica untuk mengikuti Howon. Saat Howon menaiki motornya dan menjalankannya untuk keluar dari gerbang sekolah, Nia dan Monica segera memberhentikan taksi yang lewat di depan sekolah.
“Pak ikuti motor itu.” Nia berkata kepada Supir taksi.
“Oke neng.” Dan dengan itu taksi yang dinaiki Nia mengikuti kemana Howon pergi.
Ternyata motor Howon berhenti di depan cafe. Howon memarkirkan motornya dan berdiri di depan pintu cafe.
“Dia ngapain disitu?” Monica bertanya kepada Nia.
“Aku juga enggak tau, tadi pagi dia bilang mau nemenin Ibunya.”
“Oh mungkin dia sedang menunggu Ibunya.”
“Iya mungkin.” Mata Nia selalu melihat kearah Howon. Tidak ingin kehilangan jejaknya. Lalu ada seorang perempuan manis yang turun dari taksi, perempuan itu melihat ke arah Howon dan begitu juga sebaliknya. Howon melihat perempuan itu dengan tersenyum lebar.
“Itu bukan Ibunya.” Nia berkata sembari melihat Howon dengan perempuan itu. “Dia bohongin aku lagi.” Nia kecewa dengan Howon. Nia marah karena Howon membohongi dia lagi, padahal Howon bilang ia tidak akan membuat Nia kecewa lagi, tidak akan membohongi Nia lagi.
“Pak jalan.” Nia segera menyuruh supir taksi itu untuk menjalankan taksinya. Dan dengan dipenuhi amarah. Nia dan Monica pun pulang ke rumah masing-masing.
“Pagi Nia.” Howon menyapa Nia. Tidak ada jawaban dari gadis itu. Howon merasa ada yang tidak beres. “Ni?” Howon memanggil Nia tetapi tetap tidak ada respon. Dengan berat hati Howon duduk di bangkunya dan memandang kearah jendela.
Nia terus menjauhi Howon, tidak menjawab panggilan Howon. Jangankan menjawab, menoleh saja tidak. Howon bingung kenapa Nia menjadi seperti ini. Maka saat jam pulang sekolah, saat Nia berjalan keluar kelas Howon menarik tangan Nia dan menggengam tangan itu dengan erat agar Nia tidak dapat lari darinya.
“Kamu kenapa diemin aku Nia?” Howon melihat Nia yang tidak ingin menatap mata Howon. “Nia..” Nia hanya diam. “Aku salah apa?” Howon bingung dengan tingkah Nia yang seperti ini.
“Salah apa? Kamu bilang salah apa?! Kamu bilang sama aku kalau kamu enggak bakal bohongin aku lagi, enggak bakal ngecewain aku lagi. Tapi apa Won?! Kamu bohongin aku lagi. Aku bisa ngerti kalau kamu enggak bisa nganter aku pulang atau enggak bisa nemenin aku. Tapi enggak usah bohong dengan cara bilang mau nemenin Ibu kamu tapi ternyata kamu ketemuan sama perempuan di salah satu cafe!” Nia berteriak di depan Howon. Howon sangat kaget melihatnya. Howon kaget kenapa Nia bisa tahu kalau ia tidak bersama Ibunya kemarin.
“Nia maafin aku.” Howon menatap mata Nia yang memancarkan perasaan kecewa.
“Enggak Won. Tinggalin aku sendiri. Jangan pernah deketin aku lagi. Anggap aja selama ini kita enggak pernah kenal. Anggap aku gak pernah muncul di hidup kamu. Aku gak bisa ngasih kamu kesempatan lagi.” Lalu Nia pergi meninggalkan Howon yang terdiam membeku.
Kata-kata Nia langsung masuk menuju hati Howon. Menyakiti Howon dari dalam. Howon tidak menahan gadis itu lagi untuk pergi. Howon melepaskannya. Membiarkan gadis itu sendiri tanpa bayang-bayang dirinya lagi. Howon pulang kerumahnya dengan membawa hati yang terluka.
“Won.” Radit menegur Howon yang sedang menatap jendela. Waktu itu kelas hanya tersisa Radit dan Howon.
“Kenapa dit?” Howon masih menatap keluar jendela.
“Lo kenapa sama Nia?” Radit bertanya dengan sangat hati-hati takut kalau-kalau ia salah berbicara. “Gue denger Nia neriakin lo di koridor karna lo bohong? Lo mau cerita sama gue?”
“Gue sama Nia?” Howon menghela nafas berat. “Gue ngelepas dia”
“Kenapa?” Radit penasaran.
“Karena dia yang minta gue untuk jauhin dia. Apa yang dia bilang akan slalu gue lakuin selama gue mampu melakukannya.”
“Lo emang ada salah apa?”
“Gue bilang kalau gue mau nemenin Ibu gue pergi. Tapi sebenernya gue ketemuan sama perempuan di sebuah cafe. Gue enggak tahu gimana Nia bisa tahu kalau gue bohong. Tapi sebenernya gue ketemu sama perempuan itu untuk ngebicarain desain kue yang gue bikin untuk Nia karena dia mau ulang tahun.” Howon tidak berniat untuk menatap lawan bicaranya.
“Serius lo? Kenapa lo engga bilang ke Nia?”
“Enggak bisa Dit. Dia udah terlanjur marah ke gue. Jadi kalau dia minta gue pergi dari hidupnya, gue bakal pergi.” Howon mengatakan kalimat itu dengan sangat pelan. Saat Howon mengatakan kalimat itu, ia bisa merasakan nafasnya tercekat. Betapa ia tahu bahwa tentu saja ia tidak dapat melupakan Nia. Tetapi memang kenyataan tak pernah seindah mimpi. Howon harus melepaskan gadis itu, gadis yang sangat berarti baginya.
Howon mencintai Nia apa adanya, Howon menyayangi Nia dengan seluruh hatinya. Tidak peduli seberapa banyak Nia telah menyakiti Howon, lelaki itu tetap mencintai gadisnya. Nia memang bukan miliknya, tapi Radit selalu menyebut bahwa Nia adalah gadis milik Howon. Dulu Howon selalu tertawa setiap Radit berkata bahwa gadis itu adalah miliknya. Sekarang, ada luka di hati Howon setiap mendengar Radit berkata hal yang sama. Howon meringis, merasakan perih di hatinya.
Lalu Howon menulis sebuah catatan dan meninggalkannya di laci meja Nia. Catatan itu berisi :
“Kamu adalah bagian dari cerita aku, ah bukan. Kamu bukan bagian, tapi semua cerita ini adalah tentang kamu. Tentang kamu yang mampu merubahku,tentang kamu yang selalu bisa membuatku bahagia ataupun sedih dalam hitungan detik. Semua ini selalu tentang kamu.” Dengan catatan itu, Howon merelakan gadis itu pergi.
“Bagaimana bisa orang yang dapat membuat aku sekacau ini adalah orang yang sama yang dapat membuatku merasa utuh kembali?” setiap malam Howon memikirkan itu. Sampai pada akhirnya ia menyadari bahwa di dunia ini terdapat banyak macam cinta, dan cinta Howon kepada Nia adalah cinta yang sempurna. Cinta yang tulus tanpa mengharap sebuah balasan. Howon hanya ingin melihat gadis itu tersenyum, gadis itu tertawa, gadis itu mendapatkan kebahagiaannya. Gadis itu ; Dwi Kurnia adalah satu-satunya orang yang ada di hati Howon. Dari sejak pertama melihatnya, sekarang, dan selamanya.
Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances